Siswa Jangan Puas Jadi Pekerja



PEMBEKALAN SISWA : Kepala SMAN 2 Boyolali, Suyanta memberikan pembekalan kepada siswa kelas X dalam Program PKWU, Rabu (1/8). (suaramerdeka.com/Budi Sarmun)
PEMBEKALAN SISWA : Kepala SMAN 2 Boyolali, Suyanta memberikan pembekalan kepada siswa kelas X dalam Program PKWU, Rabu (1/8). (suaramerdeka.com/Budi Sarmun)

BOYOLALI,  - Pihak Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN 2) Boyolali menggelar Program Pendidikan Kewira Usahaan (PKWU) dengan melibatkan 321 siswa kelas X, Rabu (1/8). Kegiatan yang mendatangkan  pembicara dari alumni sekolah ini bertujuan memberikan motivasi kepada siswa akan pentingnya jiwa kewirausahan.
"Kelak siswa jangan hanya puas menjadi pekerja saja," ucap kepala SMAN 2 Boyolali, Suyanta kepada suaramerdeka.com.
Suyanta mengungkapkan, pihaknya sengaja mendatangkan alumni sekaligus pengusaha agar Program PKWU tersebut tambah greget. Di antara alumni yang diundang adalah Eko Purwanto alumni sekaligus pengusaha penyulingan daun cengkih-minyak. Kemudian Budi Setyawan, alumni dan pemilik "Rejosari Penyet" Mojosongo, serta Heru Saleh, penerbit dan percetakan.
"Siswa harus dibekali jiwa enterprenuer yang disiplin, ulet, tangguh, pantang menyerah, tahan banting. Dari seluruh siswa nantinya semoga ada yang menjadi pengusaha sungguhan. Semoga kehadiran alumni ini menggugah motivasi pelajar khususnya kelas X," imbuh Suyanta. 
Budi Setyawan dalam paparannya menjelaskan, sebelum terjun menjadi pengusaha siswa harus punya tekad yang kuat. Jangan mudah menyerah, jangan takut gagal.
"Berusahalah menciptakan lapangan kerja," katanya.

Puluhan Warga Ikuti Pelatihan Pendidikan Kecakapan Wirausaha Unggul

Kudus, ISKNEWS.COM – Pembukaan Pelatihan Pertanian Organik Pendidikan Kecakapan Wirausaha Unggul (PKWU) dilaksanakan di Gedung MWC NU Bae (Depan Omah Dongeng Marwah) Jl.Ngasinan No.09 Plumbungan Desa Purworejo Kecamatan Bae Kabupaten Kudus, Senin (1/10/2018).
Ketua PKBM Omah Dongeng Marwah Kudus, Edi Supratno dalam sambutannya mengajak peserta pelatihan yang hadir untuk serius mengikuti pelatihan pertanian, Pendidikan Kecakapan Wirausaha Unggul (PKWU) ini.
“Hari ini allhamdulilah kita akhirnya samapai saat ini dapat bertemu dan masih di berikan kesehatan dan dapat berkumpul gedung MWC NU Bae dalam rangka pembukaan pelatihan pertanian organik, Semoga bisa diikuti dengan baik oleh peserta,” harapnya.
Pihaknya sudah mengirim daftar nama ke kementrian dan negara bisa di katakan makmur apabila pangan di Indonesia bisa menghasilkan secara mudah dan dapat di jangkau oleh masyarakat.
Sementara itu, Hasim Ashari, Ketua Akar Tani Makmur (ATM) kecamatan Bae mengungkapkan, Kita harus bisa mengamati terkait dengan tanaman para petani pada progam PKWU pertanian organik yang bergerak pada bidang pertanian.
“Kami sebagai ketua ATM besar harapan dengan apa yang di terima dalam pelatihan pertanian organik ini bisa berguna dan manfaat bagi para petani,” ucapnya dihadapan puluhan peserta.
Sedangkan Gufron, Kasi pendidikan masyarakat non formal, Disdikpora Kudus menyambut baik pendidikan kecakapan wirausaha unggulan ini. “Kita harus bisa dan pandai pandai menangkap peluang, dalam wirausaha. Program ini melibatkan banyak elemen masyarakat, khususnya para petani,” ujarnya.
Pada saat ini, lanjutnya, secara umum kita lihat di sekitar kita adalah tanaman padi, untuk itu mari kita sukseskan dan bagaiman caranya kita dapat mewujudkan tanaman padi di daerah kita khususnya di Kabupaten Kudus ini. (AJ/YM)


Artikel ini telah ditayangkan di ISKNEWS.COM. 
tanggal : 1 Oktober 2018 
Judul : Puluhan Warga Ikuti Pelatihan Pendidikan Kecakapan Wirausaha Unggul 
Link : https://isknews.com/puluhan-warga-ikuti-pelatihan-pendidikan-kecakapan-wirausaha-unggul/

SMAN 8 GABUNGKAN LITERASI DAN KEWIRAUSAHAAN


Program yang di-launching kemarin (5/8) itu langsung dimulai dengan pengenalan tentang jurnalistik. Para siswa juga langsung dilatih menulis berita singkat. Kemudian, mereka akan mendapatkan materi lain yang terkait dengan dunia usaha.
Menurut Waka Kesiswaan SMAN 8 Kota Malang Dr Sasongko MM, program ini pertama kali diadakan di SMAN 8. Pihak sekolah sengaja membekali para siswa dengan pengetahuan jurnalistik dan wirausaha agar anak-anak sejak awal masuk di SMAN 8 sudah punya cita-cita menjadi pengusaha dan bisa menulis. ”Kami tidak ingin kalian menjadi buruh,” ujar Sasongko saat membuka acara tersebut.
Menurut dia, anak-anak muda Indonesia harus dibekali dengan wawasan kewirausahaan (entrepreneur). Sebab sejauh ini, bangsa Indonesia masih banyak yang bekerja sebagai pekerja di tingkat menengah ke bawah. Sedangkan, para pemilik perusahaan banyak juga jadi warga asing. ”Jadi, model penjajahan saat ini bukan dengan perang fisik, tetapi dengan ekonomi. Penjajah menjadikan bangsa kita sebagai buruh,” ujar dia.
Padahal, Sasongko menjelaskan, buruh itu pekerjaannya paling berat, tetapi gajinya paling sedikit. Berbeda dengan bos, pekerjaannya sedikit, tetapi gajinya paling besar. ”Maka dari itu, kalian harus punya cita-cita jadi bos, jangan jadi buruh,” pesan dia.
Kemudian terkait materi jurnalistik, dia menyampaikan bahwa ke depan generasi muda harus punya kemampuan menulis yang baik. Sebab, menulis itu akan dibutuhkan di mana saja. Sekolah butuh menulis, kuliah harus bisa menulis skripsi, kuliah S-2 harus bisa menulis tesis, hingga S-3 menulis disertasi. ”Jadi, bisa menulis itu manfaatnya sangat besar,” terang dia.
Dalam launching program PKPU kemarin, SMAN 8 juga menggandeng Jawa Pos Radar Malang. Mardi Sampurno, manajer pemasaran Jawa Pos Radar Malang, menyampaikan, program pelatihan jurnalistik ini bisa menjadi bekal bagi para siswa untuk melakukan banyak hal. Misalnya, kemampuan menulis bisa digunakan untuk promosi jualan online. Kalau tulisannya baik, promosinya bisa mengenai sasaran. ”Dan menurut kami, SMAN 8 sangat kreatif dalam membuat program PKWU ini. Karena setahu saya di Malang hanya ada di sini,” ujar Sampurno.
Sementara itu, dalam acara tersebut, para siswa juga dikenalkan dengan materi penulisan jurnalistik oleh Kholid Amrullah, redaktur Jawa Pos Radar Malang. Para siswa diminta praktik menulis singkat dan langsung dikoreksi. Hasilnya, cukup bagus. Sejumlah siswa punya potensi yang bisa dikembangkan dalam dunia tulis menulis.
Tarishah Firdianti, siswi kelas X IPS 2 yang mengikuti acara pelatihan jurnalistik, tersebut mengaku semakin terpacu untuk meningkatkan kegiatan di bidang jurnalistik. ”Selain menulis, saya juga ingin mengasah kemampuan berbicara saya sehingga bisa menjadi master of ceremony (MC),” katanya.
Sedangkan, Auryn Senita, siswai kelas X IPA 3, mengaku, dirinya lebih bisa mengetahui cara menulis yang baik dan benar. ”Program ini sangat bermanfaat karena bisa menambah wawasan pengetahuan saya tentang jurnalistik,” ujarnya. (c3/lid)

Berwirausaha Sejak Sekolah, Saskia Dyra Makin Pintar Bagi Waktu

Berwirausaha Sejak Sekolah, Saskia Dyra Makin Pintar Bagi Waktu



,- Namanya Saskia Dyra. Salah satu Direktur Perusahaan Program Kewirausahaan (PKwu) di SMA Negeri 4 Kota Cirebon. Meski baru duduk di bangku kelas XI, Dyra sudah mampu mengelola perusahaannya di bidang kuliner dengan baik, dan meraih laba berlipat-lipat.

Program Kewirausahaan yang termanage baik oleh kepala sekolah beserta guru-guru SMA Negeri 4 ini menjadikan anak-anak didik tak hanya pandai dalam belajar, melainkan pandai berwirausaha dan menghasilkan bibit-bibit pengusaha muda. 

Dyra (sapaan akrab Saskia Dyra) contohnya. Dia merasakan sendiri manfaat dari PKwu ini dengan semakin pandainya membagi waktu antara menjalani PKwu dan juga sekolah. Tapi, Dyra tetap menjadi siswi berprestasi dikelasnya.

"Sudah setahun ini menjalankan PKwu di sekolah. Memang waktu awal-awal susah menyeimbangkan waktu antara PKwu dan tugas-tugas sekolah. Apalagi satu perusahaan yang dibentuk ini belum satu visi misi antar anggota satu dengan yang lainnya," ungkap Dyra. 

Sebelumnya, Dyra mengaku proposal pertama perusahaannya ditolak. Dia mengusung kuliner dengan olahan pedas berbahan ceker. Karena awalnya dia berpikir target pasarnya adalah teman-teman seusianya yang notabene senang makanan pedas. Namun hal itu tidak sejalan dengan keinginan sekolah.

"Proposal pertama itu ditolak karena sistem dari pihak sekolah itu inginnya perusahaan-perusahaan yang ada di PKwu ini jangan jadi pengikut usaha yang pernah ada, malah harusnya menciptakan usaha lain," ujar dara kelahiran Jakarta, 1 Januari 2002.

Kemudian proposal keduanya dibentuk baru lagi berupa ketempling rebon. Ini terinspirasi dari salah satu anggota Dyra yang berasal dari Kuningan. Disana banyak home industri yang memproduksi ketempling. Namun perusahaan yang dipimpin Dyra ini mengemas ketempling dengan rebon untuk mengangkat kekhasan Cirebon itu sendiri. 

"Nah, yang proposal kedua ini langsung diterima karena memang belum ada inovasi kuliner yang seperti itu, dan kita mengangkat kearifan lokal," ujarnya.

Wanita berambut panjang ini mengatakan, omzet yang didapatkan dari berjualan itu bisa berlipat-lipat. Dari modal awal Rp1 juta, dia bisa mengembalikan hingga Rp6 juta. Hingga kini, perusahaan yang dinamainya Laverpoool itu memiliki rasa original dan pedas.

Satu dua bulan pertama, Dyra mengenalkan produknya dengan memberikan tester kepada teman-temannya dan juga para guru. Mereka juga semangat berjualan di Car Free Day (CFD) untuk mengenalkan prodak lebih luas. Tak hanya itu, mereka membuat media sosialnya sendiri dan memasarkan secara online.

"Setelah banyak yang nyobain, ternyata banyak yang suka. Sampai-sampai dari kapolres Cirebon juga ngeborong makanan kita," ucapnya. 

Saat ini, Dyra dan teman-temannya pun mengembangkan usahanya dengan menambah olahan rengginang rebon. Kuliner yang satu ini juga banyak disukai oleh penggemarnya. Hingga kini, banyak yang memesan baik dari Cirebon maupun luar kota lainnya. 

"Kedepannya saya dan teman-teman akan terus berinovasi menciptakan usaha yang lain agar perusahaan Laverpoool ini tetap maju, dan bisa menjadi contoh bagi adik-adik PKwu lainnya," tutupnya.

Program Kewirausahaan SMAN 4 Kota Cirebon Jadi Percontohan Sekolah Lain di Jawa Barat

Program Kewirausahaan SMAN 4 Kota Cirebon Jadi Percontohan Sekolah Lain di Jawa Barat


,- SMA Negeri 4 Kota Cirebon menggelar Sosialisasi Program Kewirausahaan (PKWU) angkatan ke-2 pada warga sekolah & sekolah imbas, Jumat (10/8/2018). PKWU ini merupakan program unggulan, yang sudah dikenal dan menjadi percontohan bagi sekolah lain di Jawa Barat.
"Alhamdulillah PKWU angkatan pertama sudah sangat baik. Mereka sudah bisa mandiri dan kini saatnya menularkan ke generasi baru kelas 10 agar bisa mengikuti jejak mereka," ungkap Kepala SMA Negeri 4 Kota Cirebon, Dr. H. Suroso, M. Pd, kepada About Cirebon.
Dia mengaku bangga, anak-anaknya kini sudah memiliki kreativitas, inovasi, dan kemampuan entreupreneur yang bagus sehingga bisa menjadi bekalnya kelak saat lulus dari SMA. Mereka sudah terbentuk mindsetnya dan memiliki kemampuan berbisnis di kemudian hari.
"Mereka ini luar biasa, dari modal awal Rp1 juta, bisa mengembangkan sampai 300% atau 3 kali lipat. Omzet nya bisa mencapai Rp3 juta," tegasnya.
Meskipun kedepannya tidak ada lagi kucuran dana dari pemerintah terkait, Suroso ingin tetap melanjutkan program ini dengan dana komite sekolah. Karena banyak hal positif yang bisa dirasakan oleh anak didiknya. Bahkan diakuinya, saat ini SMA Negeri 4 Kota Cirebon menjadi percontohan PKWU di Jawa Barat.
"Saya bisa katakan bahwa SMA 4 ini PKWU paling sukses di Jawa Barat. Karena sistem PKWU kita memang didasari dari awal pembuatan perusahaan, pengajuan dana lewat proposal, sampai ke produksi, pemasaran, dan lainnya dikelola oleh anak-anak, kita hanya memantau dan memberi masukan saja," paparnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Kehumasan, Yeni Nuriyani, M. Pd, mengatakan di periode kedua ini dia berharap akan lebih baik dari sebelumnya. Bahkan tahap kedua ini akan dimatangkan secara informasi dan teknologi dengan mendesain logo, membuat undangan, atau hal lainnya.
"Jadi nanti setiap kelompoknya akan dimatangkan secara corel draw, untuk bisa mendesain sendiri logo dan lainnya. Agar ada tim grafis sendiri di tiap perusahaan yang dikelola anak-anak, dan bisa menularkan kepada anggota yang lain," tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, PKWU angkatan pertama melakukan presentasi berupa sharing pengalaman kepada siswa baru. Mereka pun menyambut antusias dan berinteraksi langsung dengan mengajukan beberapa pertanyaan.